Kamu mungkin sudah tahu fakta ini: pola pikir seseorang menentukan sudut pandangnya dalam memahami kehidupan. Namun, banyak orang yang takut mengubah pola pikirnya diri sendiri.
Ketika saya merasa enggak bahagia ternyata juga karena pola pikir saya yang belum selaras. Menjadi orang yang mudah cemas, sering menyesal, gemar membenci, termasuk membenci diri sendiri, kuat menyimpan dendam, mudah marah-marah, rajin membenci, bahkan kepada keluarga sendiri. Terus-menerus hidup saya lalui dengan cara begitu. Seperti zombie. Ada rasa capek. Batin saya lelah. Namun, di sisi yang lain seolah saya juga enggak punya daya buat keluar dari situasi itu. Ditambah, ternyata diam-diam saya merasa nyaman dengan situasi itu. Saya berpura-pura menikmatinya. Padahal sudah tahu itu akan menjerumuskan dalam penderitaan. Saya juga ada ketakutan kalau harus meninggalkan situasi itu. Takut untuk melepaskan pola pikir yang selama ini menjerat, dan menggantinya dengan yang baru, yang selaras nan membahagiakan.
Seperti yang mungkin sudah kamu kira, saya terus memaksa diri menjalani hidup dengan pola pikir seperti itu. Berpura-pura bahagia, padahal hati terasa hampa. Saya seperti zombie.
Namun akhirnya, setelah berulang kali terbentur tembok kenyataan, saya memberanikan diri mengikhlaskan pola pikir lama saya untuk berlatih mempunyai pola pikir yang baru.
Saya berlatih mengistirahatkan pikiran di sini-kini, hanya menyadari pikiran yang sering piknik ke masa lalu dan masa depan. Saya berlatih menerima diri apa adanya, dan juga memaafkannya. Saya berlatih mensyukuri apa yang sudah saya punya, daripada terus sibuk memikirkan apa yang belum saya punya. Saya berlatih mengelola marah dan menguatkan otot tulus mencintai.
Tapi ternyata enggak segampang yang saya bayangkan. Pikiran saya sudah mengakar kuat kepada pola yang lama. Saya takut. “Apakah mengubah pola pikir itu enak?”, tanya saya lirih dan penuh keraguan. Berlindung dalam perkataan, “Teorinya sih gampang, tapi prakteknya sangat sulit”.
Ditambah pola pikir banyak orang dan lingkungan, ramai-ramai, seolah mengajak saya untuk tetap mempunyai pola pikir yang lama. Pola pikir yang akrab dengan penyesalan, kecemasan, kebencian, dendam kemarahan, dan kekerasan. Setiap kali sadar harus melepaskan pola pikir itu seolah ditarik lagi, lagi, dan lagi, ke dalam pola pikir itu.
Namun memang niat buat berlatih mempunyai pola pikir yang baru itu menghadirkan rasa kesepian, enggak punya teman. Karena salah satunya, banyak teman yang berusaha mendapatkan, meraih, menggapai, sedangkan saya lebih memilih melepaskan. Terasa mereka berbondong-bondong ramai berangkat pergi, sedangkan saya berjalan sunyi untuk pulang. Rasa sepi dan kesepian sering mengunjungi saya. Bahkan tak jarang, muncul rasa ragu yang begitu besar, “Apakah jalan yang saya pilih ini memang benar?”. Saya mencari jawabannya hanya dengan menengok ke dalam diri saya sendiri. Duduk sendirian dalam keheningan. Menemui diri di dalam.
Saya berhadapan dengan diri saya sendiri, dengan berbekal salah satu pesan yang begitu indah, yaitu perjalanan dalam keheningan selalu tidak mudah, namun itulah jalan satu-satunya yang membuatmu bertemu dengan kebahagiaan nan indah. Saya lalu terus melanjutkan perjalanan berlatih menempa diri berpola pikir yang baru. Saya tetap menghormati teman-teman yang berbeda arah perjalanan dengan saya. Pelan-pelan saya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Ada rasa lega, enggak sesumpek sebelumnya. Semakin ada ruang buat bernapas ketika saya meniatkan diri untuk lebih tekun dan sabar berlatih serta berbagi.
Sekilas cerita di atas hanya sekadar berbagi, bahwa kita ini sebenarnya sejak lahir berbakat berbahagia, hanya saja perlu keberanian melepaskan pola pikir sampah, dan perlu juga diingatkan untuk berbahagia.

No comments:
Post a Comment