Friday, September 7, 2018

HIDUP JUGA BUTUH PERSAINGAN,PESAINGAN ADALAH UANG


Hidup ini adalah persaingan. kalau kita renungkan kembali persaingan itu selalu ada dan tidak pernah berhenti. Ketika kita masih duduk di bangku sekolah, terjadi persaingan diantara teman-teman, persaingan untuk mendapatkan nilai terbaik. Setelah Lulus sekolah ,terjadi persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah bekerja, terjadi persaingan untuk mendapat prestasi terbaik, persaingan untuk mendapatkan jabatan tertinggi. Di dalam dunia usaha juga terjadi persaingan antar pengusaha yang satu dengan yang lain. Bukan itu saja, masih banyak sekali persaingan dalam masyarakat. Persaingan dalam hidup rupanya selalu ada sepanjang hidup manusia.@

JIka mejadi bos,hidup juga butuh persaingan uang adalah segalanya 
Bagi sebagian orang, kaya berarti bisa menjadi bos bagi diri sendiri. Hal itu juga diutarakan Tom Aley, seorang pengusaha yang kekayaannya memungkinkannya meninggalkan pekerjaan bergaji tinggi dan memulai bisnisnya sendiri. "Seluruh prinsipnya adalah, saya suka mandiri. Saya bisa melakukan lebih banyak hal. Saya tidak harus terikat kepada siapapun," kata Aley kepada The New York Times.

Bagi sebagian orang, uang berarti bisa menciptakan kebaikan. Elizabeth Galbut Perelman memilih menggunakan sumberdayanya untuk mendirikan sebuah prusahaan yang berinvestasi di bisnis-bisnis yang dijalankan wanita. "Bagi saya, di usia muda, kekayaan artinya mampu menciptakan perubahan yang kamu harapkan untuk dunia," ujar wanita 29 tahun itu kepada The New York Times.

Namun, memperoleh kekayaan berlimpah juga dapat dibarengi penyesalan. Hampir setengah dari responden survei Boston Private mengatakan hal No. 1 yang ingin mereka lakukan secara berbeda adalah dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya.

"Orang kaya umumnya merasa memiliki utang emosional kepada keluarganya," lapor survei tersebut. "Di sini kita melihat interaksi emosional penyesalan, rasa bersalah, dan kompensasi."

Penyesalan lainnya yang cukup banyak adalah agar dapat lebih mengurusi kesehatan (27%); mengejar passion dan mimpi (24%); dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi (22%).

Namun bahkan, bagi mereka yang bukan multi-jutawan, untuk apa seseorang menghabiskan uang yang dimiliki, berkontribusi pada tingkat kedamaian dan kebahagiaan yang lebih tinggi. "Dalam hal kebahagiaan kami, waktu adalah mata uang fundamental yang sesungguhnya," kata profesor psikologi University of British Columbia, Elizabeth Dunn, kepada CNBC Make It. "Apa yang benar-benar penting untuk perasaan sehari-hari Anda adalah apa yang Anda lakukan dengan waktu Anda."

Berfoya-foya membeli barang-barang material seperti pakaian baru mungkin tidak membawa kebahagiaan, namun menghabiskan uang untuk hal-hal yang memberi lebih banyak waktu bagi diri sendiri dapat membantu mengurangi stress.

Dalam sebuah penelitian yang turut ditulis dan diterbitkan oleh Dunn dalam Proceedings of National Academy of Sciences, para peneliti mensurvei lebih dari 6.000 orang di empat negara dan juga melakukan eksperimen di mana mereka memberi orang-orang itu US$40 selama dua minggu.


Minggu pertama mereka dianjurkan membeli sesuatu yang material dan kemudian minggu selanjutnya mereka menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang dapat memberikan lebih banyak waktu bebas bagi mereka. Beberapa contoh dari menghabiskan uang untuk membeli waktu adalah dengan mempekerjakan seseorang utnuk memotong rumput atau membersihkan rumah, memesan makanan, mengendarai taksi dan bukannya kendaraan publik lainnya atau melakukan belanja online.

Orang-orang dilaporkan merasa lebih bahagia saat mereka menggunakan uang mereka untuk membeli layanan agar dapat memiliki waktu bebas daripada saat mereka membelanjakannya untuk sesuatu yang material. Jadi, sebelum membelanjakan uang, sebaiknya tanyai diri, "Apakah pembelian ini mengubah cara saya dalam menghabiskan waktu pada hari biasa?"



“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” ( Al Maa’idah : 35 )

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”( Al-Maidah : 2 )

Didalam sebuah persaingan tentunya ada yang berhasil dan ada juga yang belum berhasil, namun janganlah bersedih hati dan putus asa, karena keberhasilan itu tidak semata-mata hanya untuk di Dunia , namun apabila persaingan itu kita jalankan dengan benar sesuai syari’at Islam, maka kita akan memperoleh pahala yang besar disisi Allah.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” ( Ali 'Imraan : 139 )

No comments:

Post a Comment