JIKA ajal tidak bisa ditolak manusia, kenapa kita sebagai manusia jarang memikirkanya
kematian itu datangnya sewaktu waktu jadi perbaiki diri anda sebelum ajal menjemputmu.
Banyak kisah tentang kematian, tapi setiap kali berbincang tentang kematian, saya suka sekali mengulang-ulang kisah Nabi Sulaiman tentang seorang sahabatnya dan Malaikat pencabut nyawa.
Syahdan, di suatu pagi, Nabi Sulaiman menyelenggarakan pertemuan di istana, yang dihadiri banyak orang, termasuk seorang lelaki kenalannya, yang konon bernama Jalil Al-Qadri. Entah bagaimana caranya, Malaikat Izrail sang pencabut nyawa, dengan manyamar sebagai lelaki, juga hadir dalam majelis kerajaan itu.
Di tengah pertemuan dan perjamuan itu, Izrail malaikat pencabut nyawa dengan mata nyaris tak berkedip terus memandangi seorang undangan, lelaki bernama Jalil Al-Qadri itu. Malaikat itu bertanya-tanya: “Orang ini (Jalil Al-Qadri) kok ada di sini?”, maksudnya di wilayah Palestina. Merasa heran, Malaikat Izrail keluar ruangan dan pergilah dia ke India untuk melaksanakan perintah pencabutan nyawa.
Setelah malaikat Izrail keluar ruangan, Jalil Al-Qadri menemui Nabi Sulaiman dan bertanya tentang seorang lelaki yang dari tadi memelototinya. Nabi Sulaiman menjawab singkat “Dia itu Izrail, Malaikat Pencabut Nyawa yang menyamar”.
Mendengar jawaban itu, Jalil Al-Qadri makin ketakutan. “Ajalku sudah dekat, rupanya” pikirnya.
Nabi Sulaiman berusaha menghibur sahabat karibnya itu dan menawarkan kalau-kalau dia punya keinginan terakhir dalam hidupnya. Mendengar tawaran itu, Jalil Al-Qadri tidak menyia-nyiakan peluang itu dan meminta Nabi Sulaiman agar memerintahkan pasukan anginnya, untuk menerbangkan atau membawa dirinya pergi ke negeri nan jauh: India.
Wese-wese-wes bablas angine: dalam sekejap, atas perintah Nabi Sulaiman, angin menerbangkan Jalil Al-Qadri ke dan tibalah dia di India.
Dengan rute yang mungkin berbeda, dalam perjalanan dari Palestina ke India, Malaikat Izrail masih terus dirundung rasa penasaran: “Aku mendapat perintah Allah untuk mencabut nyawa seseorang (Jalil Al-Qadri) di India, tapi kenapa orang itu, masih berada di Palestina, di Istana Sulaiman,” gumamnya.
Singkat cerita, dengan diterbangkan oleh angin, Jalil Al-Qadri tiba di India. Dan dengan caranya sendiri, Malaikat Izrail juga tiba di India. Tepat pada waktu dan lokasi yang telah ditakdirkan oleh Allah, Izrail Malaikat Maut mencabut nyawa Jalil Al-Qadri.
Setelah tugas di India dilaksanakan, besoknya, Malaikat Izrael kembali ke Palestina menemui Sulaiman dan berkata, “Wahai Nabi Sulaiman, saat menemui Anda kemarin pagi, aku terkejut dan heran melihat Jalil Al-Qadri masih menghadiri majelis Anda. Sebab Allah swt telah menitahkan aku mencabut nyawanya setelah zhuhur kemarin di India. Tapi tepat pada waktu dan lokasinya, saya akhirnya mendapatinya dan mencabut nyawanya di India”.
Nabi Sulaiman terkesima. Ketika mengabulkan permintaan Jalil Al-Qadri untuk diterbangkan ke negeri nan jauh (India), Nabi Sulaiman tampaknya juga tidak tahu menahu bahwa ajal Jalil Al-Qadri memang di India. Sebab, ketika keluar dari majelis kerajaan, Malaikat Izrail itu tidak memberitahunya bahwa dia akan berangkat ke India..
jika ajal tak bisa ditolak maka kita sebagai umat manusia harus bertaubat sebelum ajal menjemputmu
@ekoflass,., takdir kematian pasti ada dan semua umat manusia pasti kesana, entah esok entah kapan entah pun itu dimana mana, kita sebagai umat manusia harus siap menunggu ajal

No comments:
Post a Comment